Rabu, 26 Juni 2013

aNALISIS WACANA : REFERENSI "ENDOFORA DAN EKSOFORA"



ANALISIS WACANA
“Referensi (Endofora dan Eksofora)”
Oleh: Kelompok VI
DAHLIAH SAING
1151040070
KELAS C
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Sastra
Universitas Negeri Makassar
2013




BAB I
PENDAHULUAN
Referensi dapat disebut pula acuan atau penunjuk. Referensi ialah penggunaan kata atau frase untuk mengacu atau menunjuk pada kata, frase, atau satuan gramatikal yang lain seperti klausa. Zuhud (dalam Yukub Nusucha dan Atiga Sabardila, 2002:58) mengatakan bahwa acuan adalah pemunculan kembai hal yang sama. Lyon (dalam Brown dan Yule, 1996: 28) mendefinisikan referensi sebagai  sebagai hubungan yang ada antara kata-kata dengan benda-benda. Jadi, referensi merupakan acuan atau penunjukan kata yang sama terhadap kata yang sudah ada.
Dalam wacana lisan atau tulisan terdapat berbagi unsur seperti pelaku, perbuatan, penderita, perbuatan, pelengkap perbuatan, perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, dan tempat perbuatan. Unsur itu acapkali harus diulang-ulang untuk mengacu kembali atau untuk menjelaskan makna. Oleh karena itu, pemilihan kata serta penempatannya harus benar sehingga wacana tadi tidak hanya kohesif, tetapi juga koheren. Dengan kata lain, referensinya atau pengacuannya harus jelas. Referensi atau pengacuan mencakup dua hal, yaitu eksofora dan endofora.














BAB II
PEMBAHASAN
REFERENSI (Endofora dan Eksofora)
Secara tradisional, referensi adalah hubungan antara kata dengan benda, tetapi lebih luas lagi referensi dikatakan sebagai hubungan bahasa dengan dunia. Pernyataan demikian dianggap berterima karena peemakaian bahasa (pembicara) ialah penutur ujaran yang paling tahu bahasa yang diujarkannya (Fatimah Djajasudarma, 1994: 48).
Referensi atau pengacuan mencakup dua hal, yakni eksofora dan endofora (Halliday dan Hasan, 1976: 37). Baik di dalam referensi endofora maupun di dalam eksofora, sesuatau yang direferensikan harus bisa diidentifikasi. Referensi eksofora adalah  pengacuan terhadap antiseden yang terdapat di luar bahasa (ekstratekstual), seperti manusia, hewan, alam sekitar pada umumnya, atau suatu peristiwa. Sementara itu, referensi endofora adalah pengacuan terhadap antiseden yang terdapat di daam teks (intratekstual) (Bayu Rusman Prayitno, 2009: 2).
Referensi endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks, sedangkan  referensi eksofora  bersifat situasiona, referensi (acuan) ada di luar teks. Endofora terbagi atas anafhora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian (Fatimah Djajasudarma, 1994: 49).
Sifat yang diacu di dalam referensi endofora adalah koreferensial. Referensi endofora mencakup referensi persona, referensi penunjukan, referensi perbandingan. Referensi persona adalah penunjukan kembali fungsi atau peran dalam situasi ujaran dengan menggunakan kategori persona (Halliday dan hasan, 1976: 37). Referensi persona diekspresikan melalui pronominal atau determinator (pewatas). Hal ini digunakan untuk mengidentifikasi orang dan objek yang disebutkan dalam suatu titik dalam teks (Nunan, 1993:23).  Determinator adalah partikel yang ada di dalam lingkungan nomina ( di depan atau dibelakangnya) dan membatasi maknanya (Kridalaksana, 1993:41). Referensi persona ini dapat bersifat eksofora (situasional) yang mengacu kepada sesuatu di luar teks dan endoforis (tekstual) yang mengacu kepada sesuatu di dalam teks. Sementara itu untuk referensi perbandingan dinyatakan dengan adjektiva dan adverbial dan berfungsi untuk membandingkan unsure-unsur di dalam teks yang dipandang dari segi identitas atau kesamaan.
Berdasarkan arah atau acuannya, referensi endofora terbagi menjadi dua macam, yaitu referensi anafora dan katafora (Halliday dan Hasan, 1976: 33). Referensi anafora adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu anteseden di sebelah kiri, atau mengacu pada unsure yang telah disebutkan terdahulu. Sedangkan referensi katafora adalah salah satu kohesi garamatikal yang berupa satual lingual tertentu yang mengacu pada atuan lingual lain yang mengikutinya, atau mengacu anteseden disebelah kanan, atau mengacu pada unsure yang baru disebutkan kemudian (Indiyastini, 2006:39).Dapat  digambarkan di dalam bagan berikut ini:
Referensi
Eksofora                                                        Endofora
(Situasional)                                                   (Tekstual)
                                                            Anafora                                              Katafora
(Kea arah yang                                  (ke arah yang
telah disebutkan)                  disebutkan kemudian)
Seperti yang telah dikemukakan, referensi ata pengacuan endofora itu memiliki hubungan interpretasi kata di dalam kata. Contoh berikut ini menggambarkan bagaiman hubungan antara pengacu dan yang mengacu di dalam referensi endofora.
(1)   Bu Mastuti belum mendapat pekerjaan, padahal dia memperoleh ijazah sarjananya dua tahun lalu (Alwi, dkk, 2000:43)
(2)   Setelah dia  masuk, langsung Tony memeluk adiknya (Alwi, dkk, 2000: 43).
Contoh (1) merupakan bentuk anafora, hal ini ditandai kata dia beranafora dengan Bu Mastuti. Sedangkan di dalam contoh (2) merupakan katafora yang ditandai dengan kata dia mengacu pada konstituen yang berada di sebelah kanan, yaitu Tony.
Baik dalam anafora maupun katafora selalu melibatkan satuan lingual yang berperan sebagai “acuan” dan satuan lingual lain yang “mengacu”. Satuan lingual yang dijadikan sebagai acuan disebut dengan anaphorisé (satuan lingual yang menjadi acuan dalam anafora) atau cataphorisé(satuan lingual yang menjadi acuan katafora), keduanya secara umum dikenal dengan istilah l’antécédent. Sedangkan satuan lingual yang mengacu pada satuan lingual lainnya dikenal dengan anaphorisant (satuan lingual yang mengacu pada satuan lingual yang lain dalam anafora)atau cataphorisant (satuan lingual yang mengacu pada satuan lingual yang lain dalam katafora) (Maingueneau, 1998 : 17).Berikut ini adalah contoh kohesi pengacuan anafora:
(1)   Les prélèvements seront effectuées aux dates indiquées pour chaque facture. Ils n’interviendront qu’après un délai de 20 jours calendaires.
      (Formulaire de France Télécom, 1997)
    Pemutusan akan dilaksanakan pada tanggal yang telah tertera pada tiap-
    tiap kantor pos. Hal ini hanya akan dilakukan setelah jangka waktu 20 hari
    dari jadwal’.
Pada contoh (1) di atas, pronomina (le pronom)  ils  mengacu pada anteseden di depannya yaitu frasa les prélèvements. Pronomina ils merupakan anaphorisant dan frasa les prélèvements merupakan anaphorisé. Dengan adanya satuan lingual yang mengacu pada satuan lingual lainnya yang berada di sebelah kiri atau telah disebutkan sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa dalam kalimat (1) di atas terdapat kohesi pengacuan endofora yang anaforis.
Penggunaan katafora dapat diketahui dalam contoh berikut ini:
(2)   Vous le comprendrez. Je souhaite, par cette lettre, vous parler de la France. François Mitterrand. (Lettre à tous les Français, 1988)
‘Anda semua akan memahaminya. Saya harap dapat berbicara pada anda semua tentang Prancis melalui surat ini.’
Pada tuturan (2) di atas pronomina le merupakan cataphorisant yang mengacu pada cataphorisé yang terletak disebelah kanan atau setelahnya, yaitu kalimat Je souhaite, par cette lettre, vous parler de la France. Dengan ciri-ciri tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam tuturan tersebut terdapat kohesi gramatikal endofora yang bersifat kataforis.
a)      Referensi persona
Referensi persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata Ganti orang), yang meliputi persona pertama (persona I), kedua (persona II), dan ketiga (persona III) baik tunggal maupun jamak seperti “aku”, “kamu”, “dia”, “-ku”, “-mu”, “-nya”. Contoh:
(3)   Pak RT, saya minta berhenti”, kata Basuki bendaharaku yang pandai mencari uang itu.
Pada contoh (3) terdapat kohesi referensi persona. Pronomina persona I tunggal  saya mengacu pada unsur lain yang berada di dalam tuturan yang disebutkan kemudian, yaitu Basuki (orang yang menuturkan tuturan itu).Sementara itu, -ku pada bendaharaku pada tuturan yang sama mengacu pada Pak RT yang telah disebutkan terdahulu atau antesedennya berada disebelah kiri.
Dalam bahasa Prancis, pengacuan persona dapat direalisasikan dalam bentuk pronomina persona (pronoms personnels) dan kata kepunyaan (adjectifs possessifs). Les pronoms personnels tersebut meliputi je, me, moi, nous, tu, te, toi, vous, il, elle, le, la, lui, en, y, se, soi, ils, elles, les, leurs, eux. Adjectif possesifs menunjukkan bahwa sesuatu atau sebuah objek merupakan milik dari seseorang atau sesuatu. Adjectif possesifs dapat berupa mon, ma, ton, ta, son, sa, mes, tes, ses, notre, votre, leur, nos, vos, leurs. Pengacuan persona dalam bahasa
Prancis dapat dilihat dalam contoh berikut:
(4)   Où est Mathieu? Il n’est pas dans sa chambre?.
‘Dimana Mathieu? Dia tidak berada dikamarnya?’.
Pada tuturan (4) di atas, pronomina il mengacu pada satuan lingual yang berada di dalam tuturan (teks) yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Mathieu. Dengan ciri-ciri tersebut maka ilmerupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora (karena acuannya berada di dalam teks), yang bersifat anaforis (karena acuannya telah disebutkan sebelumnya ataumengacu pada anteseden sebelah kiri) melalui satuan lingual persona bentukIII. Dengan alasan yang sama maka sapada sa chamber juga merupakan bentuk pengacuan persona yang bersifat anaforis karena mengacu pada anteseden di sebelah kiri, yaitu Mathieu.
b)      Referensi demonstratif
Pengacuan demonstratif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina demonstratif tempat (lokasional). Untuk lebih memahami penggunaan kohesi referensi demonstratif perhatikan
contoh berikut ini:
(5)   Peringatan 57 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2002 ini akan diramaikan dengan pergelaran pesta kembang api.
(6)   “Ya di kota Solo sini juga ayah dan ibumu mengawali usaha batik”, kata paman sambil menggandeng saya.
Pada tuturan (5) terdapat pronomina demonstratif ini yang mengacu pada waktu kini, yaitu pada tahun 2002 saat kalimat itu dituturkan oleh pembicara atau dituliskan oleh penulisnya. Pengacuan demikian termasuk jenis kohesi demonstratif endofora yang anaforis. Pada contoh (6), kata sini mengacu pada tempat yang dekat dengan pembicara. Dengan kata lain, pembicara (dalam hal ini paman) ketika menuturkan kalimat itu ia sedang berada di tempat yang dekat dengan tempat yang dimaksudkan pada tuturan itu, yaitu berada di kota Solo. Berikut ini merupakan contoh pengacuan demonstratif baik yang bersifat temporal maupun lokasional dalam bahasa Prancis.
(7)   Nous irons à Rio de Janeiro en mars prochaine, le carnaval aura lieu à ce moment-là.
“Kami akan pergi ke Rio de Janeiro pada maret mendatang, karnaval akan
 diadakan pada saat itu.
(8)   Je suis allé où vous avez été
‘Saya pergi ke tempat dimana anda dulu pernah berada’.
Pada contoh (7) di atas, à ce moment-là mengacu pada bulan maret yang akan datang, yaitu waktu akan diselenggarakannya karnaval. Pada tuturan (8) terdapat kata tunjuk lokasional yaitu yang mengacu pada anteseden di sebelah kanan vous avez été . merujuk pada tempat yang sama dengan tempat yang pernah ditempati oleh lawan bicara subjek.
c)      Kohesi referensi komparatif (La cohésion référencielle comparative)
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang memiliki kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, watak, perilaku, dan sebagainya. Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya “seperti”, “bagaikan”, “persis seperti”, dan sebagainya (Sumarlam, 2003 : 27-28). Kohesi pengacuan komparatif tampak pada contoh berikut ini.
(9)   Apa yang dilakukan hanya dua: jika tidak membaca buku, ya melamun entah apa yang dipikirkan, persis seperti orang yang terlalu banyak utang saja.
Satuan lingual  persis seperti pada tuturan (9) mengacu pada perbandingan persamaan antara sikap atau perilaku orang yang melamun (duduk termenung dan pikirannya ke mana-mana) dengan sikap atau perilaku orang yang terlalu banyak utang.
 Satuan lingual yang digunakan untuk menyatakan perbandingan dalam bahasa Prancis antara lain semblablement ‘sama’, identiquement‘identik’, pareillement ‘demikian juga’, différent‘berbeda’, semblable (à)‘serupa dengan’, de la même manière‘sama halnya’ dan sebagainya. Contoh:
(10)           Les arbres en fleurs étaient pareil s àimmenses bouquets
‘pohon-pohon yang berbunga seperti karangan bunga yang besar’.
Adjektiva Pareil (à) pada kalimat (10) di atas membandingkan antara les arbres en fleurs‘pohon-pohon yang berbunga’ dengan  immenses bouquets ‘karangan bunga yang besar’. Bentuk atau wujud dari pohon-pohon yang berbunga terlihat seperti sebuah karangan bunga yang besar.






Daftar Pustaka
Hasan Alwi, dkk, 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Djajasudarma, T.Fatimah. 2010. Wacana. Bandung: Refika Aditama.
Kartomihardjo, Soeseno. 1992. Analisis Wacana dan Penerapannya. Malang: IKIP Malang.
Prayitno, Bayu Ruslan. 2009. Analisis Wacana. Jakarta: Universitas Indonesia.